KENDARI – Mantan Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Nur Alam selama bulan suci Ramadan 2024 telah memulai perjalanan dengan berkeliling mengujungi warga di Kota Kendari yang dibalut dengan kegiatan buka puasa bersama (bukber).

Kamis (14/3/2023), Nur Alam berkesempatan menyapa warga di Kelurahan Lapulu, Kecamatan Abeli.

Dalam kegiatan ini, Nur Alam didampingi istri Tina Nur Alam (TNA) dan sang putri Sitya Giona Nur Alam (GNA) beserta seluruh keluarga dekat serta kerabatnya.

Nur Alam dalam sambutannya memulai dengan ceita dengan bernostalgia, sebab menurutnya wilayah Lapulu menjadi salah satu lokasi yang memiliki banyak sejarah dalam perjalanan kehidupannya.

“Saya ingin bernostalgia sedikit tentang Lapulu dan Abeli. Mengapa saya begitu bermimpi ingin mewujudkan ada jembatan yang menghubungkan Kota Lama dengan Lapulu, mulai dari saya sekolah sampai KKN, jalan Anduonohu belum tembus, sudah ada tapi belum bisa dilewati jadi kadang-kadang harus papalimbang itu tahun 1992 dan selanjutnya kita mendapat amanah menjadi Gubernur Sulawesi Tenggara itulah impian dan ingatan saya tidak pernah berubah,” ujar Nur Alam.

Lanjutnya, kesempatan berbuka puasa dengan masyarakat yang dilakukan Nur Alam menjadi wadah untuk pamit yang kemudian dinamakan ‘Pamitan yang Tertunda’.

“Kenapa ada pamitan yang tertunda, karena ada suatu proses di luar kewajaran, saya seharusnya berhenti jadi Gubernur tanggal 18 Februari 2018 tapi bulan Juli 2017 sudah diundang ke Jakarta, diperiksa, dan sudah tidak kembali langsung dipenjara selama 6 tahun 6 bulan. Karena doa dan niat kita semua baik, hadapan dan cita-cita kita dari awal baik, saya masih bisa kembali,” beber Nur Alam.

Nur Alam juga sempat bercerita mengenai dinamika saat rencana pembangunan Jembatan Teluk Kendari (JTK) yang menurutnya banyak menuai masalah.

“Waktu saya mau bangun jembatan ini, protes luar biasa yang datang dari pemilik toko di seberang, setelah saya tanya satu per satu ternyata bukan mereka yang bikin, ternyata orang lain. Mereka buat pengaduan sampai ditujukan ke perdana menteri China, ke Istana Presiden bahwa Nur Alam mau menjual tanah bersama dengan pengusaha membuat pusat perdanganan di situ, padahal nyata ini untuk jembatan,” katanya.

Namun seiring berjalan waktu dan pembangunan yang rampung, kata Nur Alam, masayarakat yang berada di kawasan yang terhubung oleh JTK dapat merasakan dampak pembangunan.

“Saat ini nilai tanah meningkat karena adanya pengembangan wilayah berada di wilayah yang strategis secara ekonomi, saya hadirkan Jembatan Teluk dan pelabuhan. Pelabuhan itu satu kali dua, pelabuhan yang dibuat oleh Kementerian Perhubungan tapi itu perjuangan kita dan pelabuhan yang dibuat oleh perusahaan atau Pelindo itu untuk peti kemas, itu membuat dengan sendirinya nilai tanah kita meningkat, jadi dari awal Abeli dan Lapulu ini bagian belakangnya kota sekarang kita sudah masuk di wilayah utama Kota Kendari,” beber Nur Alam.

Kembali, Nur Alam juga menjelaskan makna ‘Pamitan yang Tertunda’ tersebut. Menurutnya maksud itu pamit adalah sembari menyampaikan terima kasih kepada masyarakat usai menjadi Nahkoda memimpin Sultra selama 2 periode.

“Kedua adalah atas nama diri saya mewakili banyak keluarga kita selama 6 tahun ini sudah meneliti siapa yang layak memimpin Kota Kendari dan Sulawesi Tenggara jatuh lah pilihan saya untuk calon Wali Kota Kendari adalah Giona dan untuk Calon Gubernur Sulawesi Tenggara adalah ibu Tina Nur Alam,” cetusnya.

Menurutnya, kedua sosok tersebut merupakan figur yang pas dan telah memenuhi syarat dan prasyarat untuk memimpin Kota Kendari dan Bumi Anoa.

“Giona ini anak saya yang tertua, kenapa Giona kan karena anaknya, iya itu betul itu tidak bisa saya hindari tapi kemudian kita lihat, apa-apa syarat yang harus dipenuhi baik syarat admistratif, teknis, maupun bersifat politis. Soal kematangan dia sudah miliki, saya sebagai bapaknya akan menjadi mentor dan pembimbing utamanya, saya memberi jaminan,” tegas Nur Alam.

“Saat saya menjadi Gubernur, waktu itu Gubernurnya orang Tolaki, wakilnya orang Muna, Sekdanya orang Bugis, Asisten-asistennya orang Buton, Kolaka Utara, Bali, Jawa, ada orang Bajo, karena tugas saya membingkai ini negeri, kita semua putra-putri asli Sulawesi Tenggara masih ada yang sanggup di kita yaitu ibu Tina Nur Alam,” tuturnya.

Kata Nur Alam, sang istri telah memiliki segudang pengalaman baik sebagai birokrat maupun politisi.

“Apa pengalaman ibu Tina, pertama pernah menjadi pegawai 20 tahun dia mundur bukan dipecat, saya yang suruh pensiun dini. Kedua masuk DPR. Sudah 2 periode sekarang, sudah amu masuk DPR RI 3 periode terpilih. Saya saja belum pernah. Ketiga, istri mantan Gubernur, jadi tugas dan tanggung jawab Gubernur dia tau siang malam. Keempat, saya jamin 100 persen setia, dia setia sama saya sebagai suami, sama anak-anaknya, sama cucu-cucunya, sama partainya, dan pekerjaanya. Saya pun yakin dia setia untuk negerinya,” urainya.

“Begitu sayangnya saya kepada negeri, kepada rakyat, kepada wilayah kita sehingga semangat itu selalu saya tanamkan kepada kita semua agar negeri kita tetap terjaga dan terpelihra dengan baik,” pungkas Nur Alam.

**