Realisasi Investasi di Sultra Semester I 2026 Capai Rp18,5 Triliun

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Tenggara, La Ode Muhammad Nurjaya

KENDARI – Realisasi investasi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) hingga Semester I 2026 mencapai Rp18,55 triliun.

Capaian tersebut telah mencapai 51,22 persen dari target investasi daerah sepanjang tahun yang ditetapkan sebesar Rp36,22 triliun.

Realisasi tersebut berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp11,37 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp7,18 triliun. Investasi yang masuk selama enam bulan pertama tahun ini tercatat menyerap 10.463 tenaga kerja, terdiri atas 10.113 tenaga kerja Indonesia (TKI) dan 350 tenaga kerja asing (TKA).

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sultra, La Ode Muhammad Nurjaya, mengatakan capaian tersebut menunjukkan aktivitas investasi di daerah masih bergerak positif. Menurutnya, realisasi itu juga menjadi indikator bahwa potensi ekonomi Sultra masih mendapat kepercayaan dari investor.

“Realisasi investasi pada Semester I ini sudah mencapai Rp18,55 triliun atau sekitar 51,22 persen dari target investasi Sultra tahun 2026 sebesar Rp36,22 triliun. Ini menjadi modal yang baik untuk mengejar target hingga akhir tahun,” ujar Nurjaya dikutip Berita Kota Kendari, Senin (3/8/2026).

Jika dilihat berdasarkan periode triwulanan, realisasi investasi pada Triwulan I 2026 tercatat sekitar Rp13 triliun. Sementara pada Triwulan II, nilai investasi yang terealisasi mencapai Rp5,4 triliun.

Sebaran investasi masih terkonsentrasi di sejumlah daerah yang memiliki basis industri dan sumber daya mineral. Kabupaten Kolaka menjadi daerah dengan realisasi tertinggi, yakni Rp11,52 triliun atau sekitar 62 persen dari total investasi Sultra pada Semester I 2026.

Baca Juga:  Perusahaan Tambang Bukan Logam di Sultra Dapat Kuota Resmi, Ini Daftarnya

Kabupaten Konawe Utara berada di urutan berikutnya dengan realisasi Rp3,02 triliun. Selanjutnya Kabupaten Konawe sebesar Rp2,01 triliun, Kota Kendari Rp701,35 miliar, dan Kabupaten Bombana Rp482,68 miliar.

Dominasi Kolaka tidak terlepas dari perkembangan sektor hilirisasi mineral. Keberadaan kawasan industri serta berbagai aktivitas pengolahan dan pemurnian nikel menjadi salah satu faktor utama yang mendorong masuknya investasi dalam skala besar.

Kondisi tersebut tercermin dari struktur investasi berdasarkan lapangan usaha. Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp9,69 triliun. Berikutnya sektor Pertambangan sebesar Rp5,15 triliun, Perdagangan dan Reparasi Rp888,53 miliar, Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran Rp760,01 miliar, serta Listrik, Gas dan Air sebesar Rp647,17 miliar.

Dari sisi negara asal, Singapura menjadi penyumbang PMA terbesar di Sultra dengan nilai Rp6,68 triliun. Posisi berikutnya ditempati Kanada sebesar Rp2,27 triliun dan Hong Kong Rp2,07 triliun. Aliran investasi dari negara-negara tersebut terutama berkaitan dengan kegiatan pengolahan serta hilirisasi mineral yang menjadi salah satu sektor unggulan daerah.

Besarnya peran hilirisasi di Sultra juga sejalan dengan arah kebijakan investasi nasional. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi nasional pada Semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan dan menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia. Dari total tersebut, investasi sektor hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau 29,7 persen dari investasi nasional.

Secara nasional, sektor industri logam dasar dan barang logam juga menjadi salah satu sektor dengan kontribusi investasi terbesar. Pemerintah terus menempatkan hilirisasi sebagai strategi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sebelum dipasarkan, khususnya pada sektor mineral seperti nikel, bauksit, tembaga, dan besi baja.

Baca Juga:  Ini Alasan Pemprov Sultra Batalkan Wakatobi Jadi Tuan Rumah HUT Sultra 2026

Di tingkat daerah, tingginya aktivitas investasi tersebut berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi Sultra yang tetap positif.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra mencatat ekonomi daerah pada Triwulan I 2026 tumbuh 6,23 persen secara tahunan. Dari sisi pengeluaran, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), yang antara lain menggambarkan aktivitas investasi dalam perekonomian, menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 16,95 persen.

Pada 2025, ekonomi Sultra juga tumbuh 5,79 persen, meningkat dibandingkan pertumbuhan 2024 yang mencapai 5,40 persen. Dari sisi produksi, industri pengolahan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 14,91 persen.

Dengan capaian investasi Semester I yang telah melewati separuh target tahunan, DPMPTSP Sultra optimistis realisasi investasi masih dapat meningkat hingga akhir 2026. Pemerintah daerah berharap pertumbuhan investasi tidak hanya meningkatkan nilai penanaman modal, tetapi juga memperluas kesempatan kerja dan memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.

Peningkatan investasi juga menjadi bagian penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah, terutama melalui pengembangan industri pengolahan dan hilirisasi. Tantangannya adalah memastikan manfaat dari investasi tersebut semakin luas dirasakan masyarakat, baik melalui penyerapan tenaga kerja, keterlibatan pelaku usaha lokal maupun penguatan aktivitas ekonomi di daerah sekitar kawasan investasi.

 

 

**/BKK

error: Konten ini tidak dapat dicopy!!