HUT ke-81 RI
Ekobis  

BPS Mencatat Deflasi 0,31 Persen pada Agustus 2026 di Sultra

Ilustrasi deflasi

KENDARI – Kepala BPS Sulawesi Tenggara (Sultra), Hadi Susanto menyampaikan perkembangan harga di Sultra menunjukkan tren penurunan pada Agustus 2026.

“Berdasarkan data yang kami rilis, Sulawesi Tenggara mengalami deflasi sebesar 0,31 persen secara bulanan dibandingkan Juli 2026,” kata Hadi Susanto dalam keterangannya.

Hadi menjelaskan deflasi terjadi karena penurunan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi 1,25 persen dengan andil deflasi 0,41 persen.

Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga mengalami deflasi 0,21 persen.

Baca Juga:  Pemprov Perkuat Peran PPID Wujudkan Badan Publik di Sultra yang Informatif

Namun, di tengah deflasi bulanan tersebut, sejumlah kelompok pengeluaran justru masih mengalami kenaikan harga.

“Kelompok pendidikan tercatat mengalami inflasi 1,09 persen dengan andil inflasi 0,05 persen. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga juga mengalami inflasi 0,57 persen,” katanya.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan Agustus 2025, Sulawesi Tenggara masih mencatat inflasi tahunan sebesar 3,35 persen.

“Adapun inflasi tahun kalender atau perbandingan Agustus 2026 terhadap Desember 2025 mencapai 4,02 persen,” jelasnya.

Hadi menegaskan deflasi yang terjadi pada Agustus belum serta-merta berarti seluruh harga kebutuhan masyarakat mengalami penurunan.

Baca Juga:  Pendapatan Daerah Belum Optimal Meski Belanja Negara di Sultra Meningkat

“Sejumlah komoditas dan kelompok pengeluaran masih memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, Hadi juga menyoroti kenaikan pada sektor pendidikan.

“Kenaikan di sektor pendidikan perlu menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama dalam menjaga agar biaya pendidikan tidak semakin memberikan beban terhadap pengeluaran rumah tangga,” katanya.

Dengan demikian, pemerintah daerah tetap perlu menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, sekaligus mengantisipasi kenaikan harga pada kelompok pengeluaran lainnya agar stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat Sulawesi Tenggara tetap terjaga.

 

 

**

error: Konten ini tidak dapat dicopy!!