BPS: Nilai Tukar Petani dan Ekspor di Sultra Meningkat Sepanjang Juli 2026

BPS Sulawesi Tenggara

KENDARI – Nilai Tukar Petani (NTP) dan ekspor komoditas di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) meningkat sepanjang Juli 2026.

Statistisi Ahli Madya BPS Sultra, Erra Septy Vibriane menyebutkan bahwa NTP dan ekspor Sultra menjadi salah satu indikator yang menggambarkan kondisi perekonomian Sultra sepanjang Juli 2026.

Nilai Tukar Petani (NTP) Sultra pada Juli 2026 tercatat sebesar 110,64, meningkat 8,89 persen dibandingkan Juni 2026 yang berada di angka 101,61.

NTP merupakan salah satu indikator kesejahteraan petani. Angka di atas 100 menunjukkan bahwa kenaikan harga hasil pertanian dan perikanan lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga barang maupun jasa yang harus dibayar petani. Dengan kata lain, daya beli petani meningkat dan keuntungan dari hasil produksi menjadi lebih baik.

“Kondisi ini menunjukkan kesejahteraan petani Sultra terus membaik karena nilai yang diterima lebih besar dibandingkan pengeluaran yang mereka keluarkan,” jelas Erra Septy dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).

Sementara itu, perkembangan harga barang dan jasa menunjukkan tren yang lebih terkendali. Secara tahunan (year-on-year), inflasi Sultra tercatat 3,43 persen, dengan Kabupaten Kolaka menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 4,57 persen.

Baca Juga:  Masyarakat Kecewa Wakatobi Batal Jadi Tuan Rumah HUT Sultra 2026

Namun, secara bulanan (month-to-month), Sultra justru mengalami deflasi sebesar 0,19 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa harga sejumlah komoditas mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, sehingga tekanan kenaikan harga yang dirasakan masyarakat mulai mereda.

Di sektor perdagangan luar negeri, kinerja ekspor masih menunjukkan pertumbuhan positif. Nilai ekspor Sultra pada Juni 2026 mencapai US$321,05 juta, atau meningkat 1,25 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Berbeda dengan ekspor, nilai impor melonjak sangat tajam. Pada Juni 2026, impor Sultra tercatat sebesar US$330,29 juta, atau naik hingga 426,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan impor tersebut perlu dicermati lebih jauh. Jika didominasi oleh masuknya mesin, peralatan produksi, maupun bahan baku industri, maka kondisi tersebut dapat menjadi sinyal meningkatnya investasi yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi pada masa mendatang.

Sebaliknya, apabila peningkatan impor lebih banyak berasal dari barang konsumsi, maka hal itu dapat memperbesar defisit neraca perdagangan sekaligus meningkatkan ketergantungan terhadap produk dari luar daerah maupun luar negeri.

Baca Juga:  Kadin Sultra Dorong Hilirisasi Aspal Buton Masuk Proyek Strategis Nasional

Aktivitas ekonomi masyarakat juga terlihat semakin bergairah melalui peningkatan mobilitas penumpang. BPS mencatat jumlah penumpang angkutan udara domestik mencapai 56.168 orang, atau naik 8,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Peningkatan yang lebih tinggi terjadi pada transportasi laut. Jumlah penumpang kapal mencapai 139.367 orang, meningkat 27,26 persen. Angka ini kembali menegaskan bahwa transportasi laut masih menjadi tulang punggung konektivitas antarwilayah di Sulawesi Tenggara, baik untuk mobilitas masyarakat maupun distribusi barang.

Dari sektor pariwisata, tingkat hunian hotel berbintang juga menunjukkan tren membaik. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) pada Juli 2026 mencapai 40,94 persen, naik 4,27 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski belum menembus angka ideal di atas 50 persen, peningkatan okupansi hotel menjadi sinyal positif bahwa aktivitas wisata dan perjalanan bisnis ke Sultra mulai meningkat seiring membaiknya aktivitas ekonomi.

Secara keseluruhan, indikator ekonomi Juli 2026 menunjukkan bahwa perekonomian Sulawesi Tenggara berada pada jalur yang cukup positif. Meningkatnya kesejahteraan petani, pertumbuhan ekspor, mobilitas masyarakat, serta sektor pariwisata menjadi modal penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

 

**

error: Konten ini tidak dapat dicopy!!