KENDARI – Perairan laut Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menyimpan banyak potensi demi pengembangan ekonomi maritim daerah di tenggara Pulau Sulawesi ini.

“Sumber daya yang dimiliki Provinsi Sulawesi Tenggara ini tentunya akan memberikan dampak perekonomian bagi masyarakat jika dikelola dengan baik akan berkelanjutan,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sultra, Parinringi dalam keterangannya.

Pemprov Sultra sendiri dalam memanfaatkan potensi ini, salah satunya sedang menyiapkan pengembangan industri perikanan di wilayah Kamaru, Kabupaten Buton. Lokasi tersebut dipilih karena lokasinya yang strategis, sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Buton dan dokumen Rencana Zonasi dan Wilayah Pengelolaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZ-WP3K).

“Lokasi ini adalah pelabuhan perikanan. Ini sudah inisiasi sejak 15 tahun lalu,” katanya.

Kawasan laut Sultra memiliki potensi sumber daya ikan sebesar 1.520.340 ton/tahun, yang telah dikelola sampai saat ini mencapai 15,41 persen atau  sebesar 234.239 ton (DKP Sultra, 2011).

Ekspor koloditi perikanan Sulawesi Tenggara/Dok. Kendari Pos

Potensi sumber daya ikan di Sultra tersebut berada pada WPP 13 dan 14 meliputi wilayah perairan laut pengelolaan sumber daya ikan di Laut Flores dan Selat Makassar, namun daerah penangkapan ikan dapat mencakup Laut Banda, Laut Arafuru, Laut Seram, dan Teluk Bone.

Potensi lestari sumber daya hayati untuk perikanan tangkap diperkirakan dapat mencapai 250.000 ton per tahun. Dari angka tersebut, jumlah tangkapan hingga saat ini baru  mencapai 66,58 persen, yang meliputi jenis-jenis ikan yang  bernilai ekonomi tinggi seperti tongkol, tuna, kerapu, napoleon, serta berbagai jenis udang, kepiting, dan cumi-cumi.

Potensi  budidaya perairan  laut  Sulawesi Tenggara memiliki tingkat kesesuaian yang  tinggi untuk budidaya ikan (kakap, kerapuh, lobster), mollusca (kerang-kerangan, teripang, mutiara), dan  rumput laut  yang  dapat mencapai 60 ribu hektar (20 persen dari total  potensi lahan perairan laut berjarak 3 km dari garis pantai).

Budidaya Tambak dan budidaya Rumput Laut terdapat di sepanjang pesisir selatan dan barat Pulau Muna, Selat Tiworo, Kecamatan Poleang, Rumbia dan Kasipute, serta Teluk Lasolo.

Budidaya tambak, potensinya diperkirakan dapat mencapai 528.000 hektar, tetapi baru dimanfaatkan sekitar 15 persen dengan komoditi utama udang windu dan ikan bandeng dan rata-rata produksi dapat mencapai 25.000 ton per tahun. Budidaya ikan (kerambah), kerang mutiara, dan teripang masih terbatas yang hanya diusahakan oleh pemilik modal besar.

“Sektor perikanan ini juga tak luput daeinupaya kami untuk menghadirkan investor menanamkan modalnya di sektor ini,” katanya.

 

****