6000 Km Persegi Karst di Sultra Diusul jadi Taman Nasional dan Cagar Biosfer
KENDARI – Bentang alam karst seluas 6.000 kilometer persegi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) diusulkan menjadi taman nasional dan warisan dunia berstatus Cagar Biosfer dan Geopark UNESCO
Pengusulan karst di Sultra yang meliputi empat massa batuan utama, yakni Matarombeo, Tangkelemboke, Sombori dan Pegunungan Mekongga itu melalui kegiatan bertajuk “Konferensi Wallacea Expeditions”.
Peluncuran proposal ambisius itu merupakan sebuah kolaborasi ilmuwan lokal, internasional, dan juga otoritas pemerintah. Mereka adalah Universitas Halu Oleo dan NGO internasional Naturevolution, dengan kontribusi dari Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), Universitas Gadjah Mada (UGM), International Cooperative Biodiversity Group (ICBG), University of California–Davis (UC Davis), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dijutip dari Mongabay, Direktur Naturevolution International, Evrard Wendenbaum menjelaskan, bahwa selama lebih satu dekade, kolaborasi ilmiah internasional telah dilakukan untuk menghasilkan basis data terpadu sebagai landasan pengusulan kawasan lindung berkelanjutan di Sultra.
Menurut Evrard Wendenbaum, melalui “Ekspedisi Wallacea” yang berlangsung sepuluh tahun, sebanyak 327 partisipan termasuk 73 ilmuwan lokal telah melakukan penelitian mendalam selama 183 hari.
Ekspedisi ini melibatkan para arkeolog, hidrogeolog, dan ahli biologi (botani, mikologi, mamalogi, ornitologi, herpetologi, entomologi, iktiologi, dan genetika) yang bekerja di wilayah-wilayah terpencil dan belum pernah diteliti sebelumnya.
Ekspedisi ini menggunakan protokol ilmiah, termasuk bioakustik, berbagai jenis perangkap, pemasangan kamera, pengumpulan spesimen, dan analisis DNA lingkungan untuk mengungkap kekayaan ekologis, budaya, dan arkeologisnya.
“Sejumlah ekspedisi dilakukan atas permintaan otoritas lokal. Tujuannya, untuk lebih memahami hutan primer terbesar di pulau ini, hotspotkeanekaragaman hayati luar biasa dan sangat terancam, agar mendapat pengakuan sebagai kawasan lindung nasional dan juga warisan dunia,” ungkap Evrard Wendenbaum via Mongabay, Senin (5/1/2026).
Konferensi tersebut menjadi panggung untuk mempresentasikan proposal resmi kawasan lindung “lanskap Wallacea” kepada komunitas lokal.
Konferensi ini menampilkan penemuan ilmiah multidisiplin penting yang secara langsung berdampak pada pemangku kepentingan lokal: asal-usul sumber air utama (yang melayani ratusan ribu orang), data ekologis komprehensif, dan warisan budaya-arkeologi yang signifikan mendefinisikan kekayaan alam dan sejarah Indonesia.
“Wilayah ini tidak hanya unik secara ekologis dan geologis, tetapi juga menyimpan sejarah budaya dan arkeologis signifikan serta potensi untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan,” kata Evrard.
Menurutnya, kesimpulan dari seri “Ekspedisi Wallacea” menyajikan hasil ilmiah bersamaan dengan proposal untuk kawasan lindung esensial baru seluas 6.000 kilometer persegi (Taman Nasional dan Cagar Biosfer UNESCO) di Sulawesi Tenggara. Laporan-laporan yang dihasilkan memberikan landasan ilmiah komprehensif untuk kawasan lindung nasional berkelanjutan di Indonesia.
**

Tinggalkan Balasan