JAKARTA – Berdasarkan laporan Bloomberg pada pukul 10.23 WITA, nilai tukar rupiah melemah 60 poin atau 0,37 persen ke Rp 16.456,5 per Dolar AS.

Pelemahan nilai tukar rupiah tak terlepas dari memanasnya konflik di Timur Tengah, setelah Amerika Serikat pada akhir pekan lalu bergabung dengan Israel dalam menyerang fasilitas nuklir Iran.

Selain memukul nilai tukar di beberapa negara, kondisi tersebut juga memicu pasar saham merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah mengawali perdagangan Senin (23/6). IHSG dibuka turun 90,572 poin (1,31 persen) ke 6.816,566.

Baca Juga:  Jadi Penggerak Ekonomi Daerah, Peran Pelabuhan Wamengkoli Bakal Dioptimalkan

Selain itu, harga minyak juga melambung. Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik USD 1,88 atau 2,44 persen menjadi USD 78,89 per barel pada pukul 11.22 GMT.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik USD 1,87 atau 2,53 persen menjadi USD 75,71 per barel.

Kedua kontrak melonjak lebih dari 3 persen di awal sesi ke USD 81,40 dan USD 78,40, masing-masing, tertinggi dalam lima bulan, sebelum mengalami penurunan.

Baca Juga:  Rapimprov KADIN Sultra 2025, Momentum Optimalisasi Potensi Ekonomi dan Investasi

Brent telah naik 13 persen sejak konflik dimulai pada 13 Juni, sementara WTI telah naik sekitar 10 persen.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dia telah ‘menghancurkan’ situs nuklir utama Iran dalam serangan akhir pekan lalu , bergabung dengan serangan Israel dalam eskalasi konflik di Timur Tengah saat Iran berjanji untuk mempertahankan diri.

**