Ekobis  

Asmawa Tosepu: Sektor Transportasi Udara Sumbang Inflasi Tinggi di Kendari

Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu dalam penyampaiannya pada panen raya jagung kelompok petani Lapas Kendari/Ist

KENDARI – Penyumbang terbesar inflasi di Kota Kendari saat ini bersumber dari sektor transportasi udara.

Hal tersebut disampaikan Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu bahwa dengan tingginya inflasi dari sektor tersebut pihaknya tidak bisa mengintervensi maskapai penerbangan.

“Jadi, terkait dengan tingginya angka inflasi yang disebabkan atau kontribusi dari sektor transportasi udara, pemerintah kota tidak bisa melakukan intervensi, apakah itu subsidi atau hal-hal lain, karena memang berlaku harga pasar dan itu memang ranahnya pemerintah pusat,” kata Asmawa Tosepu usai pelaksanaan panen raya bersama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kendari.

Baca Juga:  Stok Beras Sultra Dipastikan Aman Jelang Natal 2025 Hingga Idul Fitri 1447 H

Asmawa berharap, pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk menurunkan tarif transportasi udara.

“Dan kemudian memperbanyak atau menambah lagi jumlah penerbangan dari dan tujuan ke Kota Kendari. Nah itu saja sebenarnya,” harap Asmawa.

Sebab, kata Asmawa, pihaknya melakukan penghitungan bahwa jumlah penerbangan dari dan tujuan ke Kota Kendari semakin menurun seiring dengan meningkatnya penumpang transportasi udara.

Pj Wali Kota Kendari itu juga menjelaskan bahwa pihaknya melakukan berbagai hal yang menjadi kewenangan Pemkot Kendari untuk mengendalikan laju inflasi di Kota Lulo.

Baca Juga:  Bapanas Wanti-wanti Soal Kenaikan Harga Daging Sapi

“Tetapi apapun itu, untuk hal-hal yang bisa diintervensi, bisa dikendalikan oleh pemerintah kota, maka tentu akan dilaksanakan,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa hal tersebut telah dibuktikan dengan pemberian subsidi bantuan kepada pengusaha angkutan kota yang bisa memberikan deflasi pada sektor angkutan darat.

“Dan itu berhasil alhamdulillah bisa memberikan kontribusi positif, membuat untuk sektor angkutan darat itu menjadi deflasi,” demikian Asmawa. **

error: Konten ini tidak dapat dicopy!!