SM mengaku kedua anak tersebut tidak merasakan sakit kecuali darah yang tampak di bibir F. Karena saat itu kedua anak ditanya oleh salah satu ibu mengenai apa yang dirasakan, mereka mengatakan tidak ada.
SM mengatakan selang beberapa waktu di rumah F datanglah dua orang pemuda salah satunya inisial C (21) yang terbawa emosi langsung mengayunkan 3 kali tinju ke wajah dan pelipis, hingga membuat SM tertunduk karena kepala pusing dan penglihatan buram. Kemudian ibu desa setempat berusaha menahan C .
“Saya mengira semuanya baik-baik saja. Dan saya bisa mendamaikan serta mendisiplinkan anak-anak tersebut dengan baik. Tanpa kericuhan kedua keluarga. Sudah puluhan tahun mengajar pertengkaran anak-anak sudah sering terjadi. Dan menjadi kebiasaan saya selalu berusaha mendamaikan sampai ke rumah-rumah siswa. Namun baru kali ini saya dituduh, dipukul, dicaci hingga tidak didengar” pungkasnya.
Hingga pada Kamis (16/2/2023) mediasi digelar, dihadiri oleh orang tua siswa, PGRI, Camat Tomia, Babinsa, Kapolsek Waha, ketiga pihak baik guru dan kedua orang tua siswa yang bertengkar tersebut berakhir damai.
Hasilnya, bersepakat bahwa tindakan pendisiplinan siswa tersebut masih dibatas kewajaran. Namun untuk pelaku pemukulan baik pihak SM dan PGRI Tomia akan tetap memproses ke kepolisian demi efek jera atas tindakan main hakim sendiri.
Akibat kejadian tersebut SM mengaku trauma. Meski semua cacian masyarakat tidak menuai sanksi yang sesuai, SM berharap agar kejadian yang dialaminya tidak terulang lagi. Kedepannya jika persoalan serupa yang melibatkan siswa dan guru terjadi diselesaikan secara kekeluargaan, kepala dingin, tidak mudah terprovokasi apalagi main hakim sendiri. **






