Setelah keluar ruangan dari mengambil barangnya kedua siswanya dilaporkan sudah berlari pulang sambil menangis.
SM langsung menyusul mereka di rumahnya karena masalah sekolah harus diselesaikan di sekolah dan keduanya belum juga berdamai.
Namun di rumah F, kelompok masyarakat sudah berkumpul dan siswa-siswa juga tampak berkerumun. SM mengaku bingung dan terkejut mendengar sumpah serapah, caci-maki, provokasi dari sejumlah masyarakat di tempat itu kepadanya.
SM mengaku situasi sudah memanas sehingga ia bahkan tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan kronologis yang sebenarnya.
“Ketika saya menyadari bibir F berdarah saya memeriksanya dengan jari telunjuk, tapi spontan saya dibentak.” paparnya.
Untuk menenangkan masyarakat dirinya menyarankan kedua anak itu dibawa ke Puskesmas.
“Karena bukti ada pada mereka, dan saya mengatakan siap mengikuti proses hukum apapun yang ditempuh,” ujarnya.






