KENDARI – Seorang sopir taksi di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) ditangkap Polisi usai melakukan dugaan tindak pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

Pelaku berinisial M (39) merupakan warga Kelurahan Anawai, Kecamatan Wua-wua, Kota Kendari.

Kapolresta Kendari, Kombes Pol Muh Eka Fathurrahman menjelaskan, peristiwa yang dilakukan oleh pelaku terjadi pada Desember 2022 lalu.

Dimana saat beraksi, pelaku mengiming-imingi korban dengan membelikan ice cream.

“Pelaku bekerja di rumah korban Mawar (nama samaran) sebagai sopir pribadi. Saat itu, pelaku menggunakan mobil membawa korban di salah satu Swalayan yang ada di Kota Kendari dengan alasan ingin membelikan ice cream,” ujar Eka, Senin (16/1/2023).

Dalam perjalanan, kata Eka lagi, pelaku diduga justru melecehkan korban dengan cara memegang dan memasukkan tangannya di alat vital korban.

Setelah itu, pelaku mengantar korban pulang ke rumahnya.

Beberapa hari kemudian, korban bersama neneknya ingin ke luar rumah, tetapi korban tidak mau numpang di mobil yang dikemudikan oleh pelaku.

“Korban ini takut naik mobil kalau sopirnya si pelaku ini, makanya dia minta neneknya supaya cari sopir yang lain,” bebernya.

Kemudian neneknya pun bingung dan melakukan interogasi kepada korban. Korban pun menceritakan aksi bejat pelaku.

Usai menceritakan aksi pelaku, keluarga korban melaporkan kelakuan pelaku ke Polisi pada Jumat (13/1/2023)

Mendapat informasi tersebut, aparat Kepolisian langsung melakukan penyelidikan.

Setelah mendapatkan alat bukti yang cukup, Tim Buser 77 Polresta Kendari dikerahkan untuk menangkap pelaku di kediamannya di Kecamatan Kambu, Kota Kendari pada Sabtu (14/1/2023) sekitar pukul 21.30 WITA.

Dalam penangkapan berlangsung, pelaku berusaha mengelak bahkan terlibat cekcok dengan aparat.

Namun, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, pelaku langsung digiring di Mako Polresta Kendari guna pemeriksaan lebih lanjut.

“Dari hasil penyelidikan polisi, pelaku terbukti telah melecehkan korban,” pungkasnya.

Akibat kejadian itu, pelaku disangkakan dengan Pasal 82 UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman paling lama 15 tahun penjara. **