JAKARTA¬†– Beberapa hari lagi, film petualangan “Santiago Oputa Yi Koo” akan tayang di bioskop Kendari.

Premier film petualangan “Santiago Oputa Yi Koo” hasil karya pemuda kreatif dari Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) akan tayang pada tanggal 8-9 Agustus 2022 mendatang.

Film yang bergenre horor petualangan ini mengambil lokasi syuting di beberapa tempat di Kota Baubau seperti Benteng Keraton Buton, Bukit Savana Palagimata, Pasar Wameo dan Universitas Dayanu Ikhsanuddin Baubau.

Sutradara sekaligus penulis naskah, Alan ASJKG di Kendari menjelaskan, film ini bercerita tentang petualangan seorang sejarawan muda yang hendak menelusuri jejak-jejak Oputa Yi Koo yang merupakan pahlawan dari tanah Buton. Namun, dalam perjalanannya penelusuran sejarah tersebut mendapat banyak tantangan.

“Dalam membuat film ini kita didukung banyak pihak, diantaranya Pemerintah Kota Baubau, Dinas Pariwisata Provinsi Sultra, dan banyak pihak lain juga,” ujar Alan dikutip dari Antara, Sabtu (6/8/2022).

Ia mengatakan, adapun sinopsis film Santia Oputa Yi Koo, di mana sejarawan muda bernama La Jon sedang melakukan riset terhadap Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau yang biasa disebut Oputa Yi Koo.

La Jon ingin membuka tabir bahwa di Buton ada seorang Sultan yang menentang dan melawan penjajahan Belanda, namun hal ini ditutupi karena merupakan sebuah rahasia bagi orang Buton.

La Jon mendapatkan informasi bahwa yang mengetahui cerita mengenai Oputa Yi Koo adalah kakek La Meti yang tinggal di dalam Benteng Keraton Buton. La Jon menemui Kakek La Meti, namun kakek La Meti memberitahu La Jon Bahwa yang lebih mengetahui informasi mengenai Oputa Yi Koo adalah kakek La Koo yang tinggal di dalam hutan Gunung Siontapina Buton.

Perjalanan La Jon mengantarkan Oputa Yi Koo untuk diakui sebagai Pahlawan Nasional dari Buton pun diwarnai dengan petualangannya mencari kakek La Koo.

Mulai dari dihadang orang tak dikenal yang menjadi satu-satunya antagonis di dalam film, hingga pertolongan yang didapatkannya dari seorang perempuan dalam petualangannya.

Ketegangan selama petualangan La Jon di Gunung Siantopina pun menjadi sebagian besar latar film. **