HaloSultra.com – Saat ini, Indonesia sedang menghadapi ancaman berupa potensi militer, non-militer, dan hybrid (ancaman militer dan non-militer sekaligus).

Dalam konteks itu, peran anak muda, khususnya mahasiswa, sangat penting dalam menghadapi berbagai ancaman tersebut.

Demikian disampaikan Analis Kebijakan Ahli Madya Bidang Sosial Budaya Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Kolonel Wahyu Jati Purnawan, dalam Rapat Koordinasi Pergerakan Mahasiswa Moderasi Beragama dan Bela Negara (PMMBN), belum lama ini.

“Ketiganya membutuhkan respons dan penanganan yang tepat. Masing masing ancaman memiliki tingkat kerumitan tersendiri. Namun demikian, jika melihat kondisi terkini, potensi ancaman non-militer terlihat lebih dominan,” ujarnya.

Dirinya merujuk pada berbagai gejala yang terjadi di masyarakat dewasa ini, misalnya merebaknya politik identitas, membuncahnya infiltrasi budaya asing, dan kesenjangan sosial, budaya, serta ekonomi.

Berbagai contoh itu, sambung dia, jika dibiarkan, dapat mengasingkan warga negara dari kecintaan pada bangsa dan negaranya.

“Patut kita waspadai, politik devide et impera, politik pecah belah, masih membayangi kita hingga saat ini. Politik ini terus berkembang dan bermetamorfosa dengan segala bentuknya. Masih ada pihak yang menginginkan kita terus bergulat dengan meminggirkan akal sehat dan nurani, mereka menginginkan bangsa ini pecah. Ini harus direspons dengan tepat,” tegasnya.

Wahyu berharap, PMMBN terus menebar ruang dialog di berbagai kesempatan. “Di tangan kalianlah, Indonesia yang damai ke depannya ini berada. Kesempatan untuk membuka ruang dialog bagi empat nilai moderasi beragama ditambah lima nilai bela negara perlu terus dibuka,” papar pria asal Blitar ini.

**