Dinilai Ingkar Komitmen, PB-HIPTI Desak Pemerintah Evaluasi PT Sulawesi Cahaya Mineral

Ketua Umum PB-HIPTI, Rusmin Abdul Gani

KENDARI – Pengurus Besar Himpunan Pengusaha Tolaki Indonesia (PB-HIPTI) menyampaikan kecaman keras terhadap PT Sulawesi Cahaya Mineral (PT SCM) atas sikap dan kebijakan perusahaan yang dinilai ingkar komitmen, tidak konsisten, serta mencederai kepercayaan masyarakat dan pemerintah daerah, khususnya di Kecamatan Routa, Konawe.

Ketua Umum PB-HIPTI, Rusmin Abdul Gani meyebutkan, berbagai aksi protes dan demonstrasi yang saat ini berlangsung di Routa bukanlah tindakan tanpa alasan, melainkan akumulasi kekecewaan dan rasa dikhianati oleh masyarakat.

Sejak awal, PT SCM menjanjikan pembangunan smelter, pembukaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan.

Namun dalam praktiknya, kata Rusmin, perusahaan hanya mengambil sumber daya alam dan meninggalkan dampak sosial serta lingkungan.

“Secara historis, PT SCM telah memperoleh berbagai kemudahan dan privilege dari pemerintah daerah dan provinsi, termasuk penguasaan wilayah tambang dengan cadangan yang sangat besar,” kata Rusmin Abdul Gani dalam keterangan persnya, Rabu (11/2/2026).

Baca Juga:  Dugaan Korupsi Dana Rutin Kecamatan Morosi Naik Tahap Penyidikan

Dukungan tersebut diberikan dengan dasar komitmen pembangunan smelter di Konawe, hingga masyarakat rela melepaskan tanah dan ruang hidupnya demi investasi tersebut.

“Fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang bertolak belakang. Setelah produksi berjalan, Konawe hanya dijadikan wilayah eksploitasi, sementara hasilnya dialirkan ke PT IMIP di Morowali melalui sistem pipa,” sambungnya.

Tindakan ini merupakan pengingkaran nyata atas komitmen investasi, sekaligus pengkhianatan terhadap harapan masyarakat Routa dan Sulawesi Tenggara.

Rusmin menegaskan investasi harus berjalan seiring dengan keadilan dan keberpihakan kepada masyarakat lokal.

“Apa yang dilakukan PT SCM bukan semata persoalan bisnis, tetapi menyangkut kepercayaan publik, stabilitas sosial, dan masa depan sumber daya alam Sulawesi Tenggara,” tegas Rusmin.

Menurutnya, bahwa aksi demonstrasi adalah dampak, bukan penyebab masalah. Apabila situasi ini terus dibiarkan, potensi konflik sosial, kriminalisasi warga, dan rusaknya iklim investasi menjadi ancaman nyata.

Baca Juga:  Narkoba Dominasi Kasus di Polda Sultra Sepanjang Tahun 2025

Oleh karena itu, Rusmin mendesak secara tegas Pemerintah Kabupaten Konawe, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, dan Pemerintah Pusat untuk segera turun tangan secara aktif dan tegas untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap izin dan kewajiban investasi PT SCM, khususnya komitmen pembangunan smelter.

“Negara hadir melindungi masyarakat Routa, bukan membiarkan mereka menanggung kerugian sosial dan ekonomi,” katanya.

Sumber daya alam Sulawesi Tenggara harus diolah di Sulawesi Tenggara, demi keadilan dan keberlanjutan daerah.

Pernyataan ini, kata Rusmin, bukan penolakan terhadap investasi, melainkan seruan agar investasi dijalankan secara adil, jujur, dan bertanggungjawab. Tanpa langkah cepat dan tegas, ketegangan di lapangan dikhawatirkan akan semakin membesar dan merugikan semua pihak.

 

**

error: Konten ini tidak dapat dicopy!!