Soal Dugaan Jalur Titipan Mahasiswa Baru UHO, AMIN Desak Kemendikbud Ristek Turun Tangan

Kemendikbud Ristek didesak membatalkan status mahasiswa 'jalur titipan' yang mengikuti SMMPTN 2022 Universitas Halu Oleo (UHO)/Ist.

JAKARTA – Aliansi Masyarakat Indonesia Menggugat (AMIN) mendesak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) untuk turun tangan membatalkan hasil SMMPTN Universitas Halu Oleo tahun 2022.

Pasalnya, AMIN menduga proses penerimaan mahasiswa baru Fakultas Kedokteran dan Farmasi melalui jalur mandiri tersebut terdapat nama-nama mahasiswa yang dititipkan serta sarat akan tindakan gratifikasi.

Ketua Umum AMIN, Muh Andriansyah mengatakan dua fakultas tersebut diduga melakukan tindakan gratifikasi dan terkoneksi oleh Rektor UHO.

“Berdasarkan data, kami menduga besar kemungkinan tindakan gratifikasi dilakukan oleh dekan Farmasi dan Kedokteran karena melihat nilai rupiah yang fantastis tinggi dan ini terkoneksi oleh Rektor UHO,” ungkap Ardiansyah, Sabtu (10/12/2022).

Baca Juga:  Mutasi Kejaksaan: Kajari Kendari dan Wakatobi Berganti

Dia menyampaikan, bahwa di dua fakultas tersebut terdapat nama-nama pejabat pemerintah daerah yang diduga melakukan titipan untuk memudahkan jalur untuk masuk.

“Sangat miris sekali, dalam data yang kami miliki juga terdapat nama-nama penjabat pemerintah daerah yang melakukan titipan untuk memudahkan titipannya tersebut masuk ke Fakultas Farmasi dan Kedokteran, bukan kah itu salah satu tindakan yang melawan hukum. Dan ini terkoneksi oleh Rektor UHO,” jelasnya.

Baca Juga:  Fitriyah Nurainun dan Nia Astarina Raih Kemenangan di Pemilihan BEM UHO 2025

Ardiansyah menekankan agar penerimaan mahasiswa baru melalui jalur SMMPTN untuk dievaluasi.

“Kmi mendesak Kemendikbud untuk segera memberhentikan mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Farmasi yang melakukan jalur titipan, karena hal tersebut sangat menyalahi aturan yang ada,” tegasnya.

“Kami pun mendesak KPK-RI untuk segera memeriksa Dekan Fakultas. Kedokteran dan Farmasi terkait dugaan gratifikasi ini. Karena dalam data kami sangatlah jelas keterlibatan dua dekan fakultas tersebut. Dan ini terkoneksi dengan rektor yang dilakukan secara sistematis,” tutupnya. **

error: Konten ini tidak dapat dicopy!!