Ponpes di Muna Barat Digruduk Warga Usai Pimpinannya Diduga Cabuli 4 Santriwati

MUNA BARAT – Sejumlah warga menggeruduk Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara (Sultra). Warga mendesak agar Ponpes tersebut ditutup usai Pimpinan Ponpes berinisial JM diduga mencabuli empat santriwati.

“Aksi tadi itu soal desakan agar pesantren segera ditutup setelah adanya kasus dugaan pencabulan,” ujar kuasa hukum santriwati korban pencabulan, Abdul Rahman dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).

Warga mendatangi Ponpes yang beralamat di Kecamatan Kusambi, Muna Barat, pada Rabu (4/2/2026) siang.

Rahman mengungkapkan warga juga menuntut agar polisi bisa segera memproses kasus dugaan pencabulan itu.

Baca Juga:  Selamatkan Adik, Pria di Buton Tengah Bertarung dengan Buaya

“Demo itu juga mendesak agar proses hukum di polisi bisa segera dilakukan,” katanya.

Dia mengungkapkan demonstrasi tersebut dipicu adanya empat santriwati berinisial SR (22), SM (17), ABN (17) dan FH (18) yang diduga menjadi korban pencabulan. Pimpinan Ponpes diduga mencabuli para korban sejak 2023.

“Kasus dugaan pencabulannya itu terjadi sekitar tahun 2023,” ungkap Abdul.

Namun, kasus itu baru terungkap usai adanya pengakuan dari para korban. Keluarga korban melalui kuasa hukumnya langsung membuat laporan ke Polres Muna Januari 2026.

Baca Juga:  Ini Salah Satu Program Prioritas Ketua DPRD Sultra di Muna, Mubar, dan Butur

“Sudah kami laporkan sekitar akhir Januari kemarin, nah demo tadi itu mendesak agar bisa segera diproses laporannya,” imbuhnya.

Sementara, Kapolsek Kusambi Ipda Akhmad Amin saat dikonfirmasi belum merespons terkait peristiwa tersebut.

Dalam video dilihat detikcom, tampak puluhan warga sempat bersitegang dengan polisi yang melakukan pengamanan aksi demonstrasi. Warga hendak merangsek masuk ke halaman pesantren yang ditutupi seng.

Dalam narasi lainnya yang beredar, demonstrasi juga dipicu akibat proses hukum dugaan pelecehan yang dinilai lamban.

 

**/detik

error: Konten ini tidak dapat dicopy!!