KENDARI – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan meresmikan gambar cadas yang berada di gua batu gamping Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, sebagai lukisan tertua di dunia.
Peneliti Gambar Cadas BRIN, Adhi Agus Oktaviana, cerita penelitian ini bermula dari tahun 2012. Tiga tahun berikutnya, saat ia masih jadi peneliti di Kemendikbud, mulai melakukan pengambilan sampel di gua-gua di Sulawesi Tenggara.
“2015 itu jadi peneliti di Kemendikbud, ada penelitian gambar cadas di Indonesia dan kebagian di Pulau Muna, baru ke Leang-Leang ada cap tangan. Dari 2015 sampai 2019 itu ke Profesor Maxime Aubert (dari Australia), dan 2019 diambil sample sampai dianalisis,” ungkap Adhi saat ditemui di Gedung E, Kementerian Kebudayaan, Kamis (22/1/2026).
Dari sample itulah, mulai dilakukan berbagai pengujian dengan metode laser-ablation uranium-series (LA-U-series) yang diyakini sebagai teknologi mutakhir. Teknologi itu menentukan kronologi budaya yang jauh lebih tepat.
“Awalnya pas tahun 2014, kami hanya memperkirakan berusia 4 ribu tahun lalu tapi sampai 2026 mendapatkan fakta berusia 67.800 tahun. Hasil riset kita juga terpublish juga di jurnal,” katanya.
Bukti ini diyakininya Homo Sapiens bermigrasi ke Wallacea jauh sebelum prediksi sebelumnya.
“Nenek moyang kita bukan hanya pelaut yang unggul tapi juga penggambar dan seniman yang cerdas,” tegasnya.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan hari ini gambar cadas di Pulau Muna sebagai lukisan gua tertua di dunia.
“Sebelumnya kita tahu lukisan gua di Leang Maros, Makassar, Sulawesi Selatan, yang berusia 51.200 tahun, sekarang jadi 67.800 tahun. tentu, ini jadi fakta atau temuan yang penting dan bakal masuk ke dalam buku awal peradaban Nusantara,” ungkapnya.
Usia prediksi ini mengalahkan lukisan gua tertua yang ada di Prancis yang berusia 17.000 tahun, di negara Eropa lainnya ada yang sampai berusia 40.000 tahun.
“Di Afrika ada yang 5.000 tahun tapi di Indonesia jadi yang resmi tertua. Bahwa Indonesia jadi salah satu peradaban tertua di dunia,” pungkas Fadli Zon.
Penelitian ini hasil studi kolaborasi internasional antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University dan Southern Cross University (Australia). Studi tersebut rilis di jurnal Nature dengan judul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”, 21 Januari 2026.
**/detik






