Industri Logam Dasar Jadi Sektor Investasi Unggulan Sulawesi Tenggara

Presiden Joko Widodo saat meresmikan pabrik pengolahan dan pemurnian biji nikel di Kabupaten Konawe pada Desember 2021 lalu/Ist

KENDARI – Industri logam dasar menjadi salah satu sektor unggulan yang menyumbangkan nilai investasi terbesar di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Wilayah III, Kedeputian Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Sri Moertiningroem dalam Rapat Expose Rencana Kerja 2023 dan Realisasi Kinerja 2022 Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sultra, pada Jumat (24/2/2023) lalu.

Industri logam dasar di Sulawesi Tenggara sangat diminati oleh investor asing, sehingga Sri Moertiningroem optimis pada tahun 2023 realisasi investasi di Sultra dapat tercapai dengan maksimal dengan peran dan upaya dari DPMPTSP Sultra menggaet dan memberikan ruang seluas-luasnya kepada para investor untuk berinvestasi di Sultra.

“Salah satu sektor realisasi terbesar yaitu industri dasar logam. Dimana Sultra menjadi diminati investor asing,” kata Sri Moertiningroem.

“Mereka ingin membangun hilirisasi tambang nikel untuk membangun bahan baku batrei,” sambungnya.

Lanjut Sri Moertiningroem, pihaknya bakal mendorong hilirisasi industry kepada produk-produk pertambangan.

“Termaksud juga kita akan mulai memasuki energi hijau, jadi itu bagaimana kita bisa mengurangi bahan bakar yang mengakibatkan polusi,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa bakal ada pemberian dana alokasi non fisik yang dimana pemberian tersebut merupakan inisiatif Menteri BKPM, Bahlil Lahadalia.

“Jadi ini berbeda dari dana APBD tetapi masih termaksud APBN,” katanya.

Direktur Wilayah III Deputi Bidang Penanaman Modal Kementrian Investasi/BKPM RI, Sri Moertingroem (kanan) disampingi Sekretaris DPMPTSP Provinsi Sultra, Joni Fajar (kiri)

Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala DPMPTSP Sultra, Joni Fajar mengungkapkan, realisasi investasi di Sultra baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA), tahun 2022 mencapai 20,19 triliun, dan sektor realisasi investasi terbesar adalah industri logam dasar, barang logam sebesar Rp11,817.08 milyar.

DPMPPTSP Sultra berkolaborasi dengan DPMPTSP kabupaten dan kota se-Sultra akan terus berkomitmen meningkatkan capaian realisasi investasi di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Baca Juga:  AJI Kendari Respons Klarifikasi Pemprov Sultra Soal Insiden Ajudan Gubernur dan Wartawan

“Tetap jaga komitmen, koordinasi dan kolaborasi pada pihak DPMPTSP di kabupaten dan kota se-Sultra,” ujar Joni dalam keterangannya.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu se-Sultra perlu menumbuhkan optimisme dalam bekerja, sehingga dapat melahirkan inovasi serta strategi jitu untuk memenuhi target realisasi investasi di Sultra untuk tahun 2023 dan 2024 mendatang.

Dengan tingginya realisasi investasi tiap daerah tersebut tidak lepas dari proyek yang dikerjakan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA), dibantu dengan tenaga kerja ataupun SDM dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Sementara itu, untuk kategori perusahaan, PT Obsidian Stainless Steel (OSS) masih menjadi perusahaan dengan investasi terbesar Penanaman Modal Asing di Sultra, dan menjadi prioritas DPMPTSP Provinsi Sultra dalam realisasi investasi tahun 2023.

Tahun 2023 ini, ada sekitar Rp6,6 triliun investasi Penanaman Modal Asing yang masuk di Sulawesi Tenggara. Paling tinggi sebagai industri yang bergerak di bidang produksi baja stainless yang dilapisi oleh obsidian.

“Kita optimis realisasi investasi di Sultra tahun 2023 ini bakal terus meningkat,” kata Joni.

Dilansir dari Bisnis.com, kinerja industri logam di Indonesia terus meningkat pada tahun 2022. Pemerintah menyasar pengembangan berbagai jenis logam dasar dengan hilirisasinya.

Direktur Industri Logam, Direktorat Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Liliek Widodo mengatakan, tercatat di kuartal II/2022, industri logam tumbuh 15,79 persen atau naik signifikan jika dibandingkan kuartal I/2022 yang mencapai 7,90 persen.

“Melejitnya kinerja industri logam didorong oleh peningkatan sektor logam dasar serta peningkatan bahan baku besi dan baja, nikel, emas hingga bahan tambang,” terang Liliek, dikutip Minggu (25/9/2022).

Untuk itu Liliek berharap, pelaku industri menunjukkan serta mempromosikan kemajuan teknologi industri hilir logam dan mesin, baik di dalam maupun luar negeri, terutama terkait dengan teknologi pengecoran, produk casting, metalurgi, teknologi proses termo serta teknologi fabrikasi.

Baca Juga:  BMKG: Puncak Musim Penghujan di Wilayah Sultra pada April 2026

Di Sulawesi Tenggara sendiri berdasarkan data Direktori Industri Besar dan Sedang Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra tahun 2022 menyebutkan ada empat perusahaan yang bergerak di bidang industri logam dasar dan mencatatkan nilai investasi yang cukup besar, diantaranya: PT Virtue Dragon Nickel Industry (PT VDNI) di Kabupaten Konawe, PT Obsidian Stainless Steel (PT OSS) di Kabupaten Konawe, dan PT Antam di Kabupaten Kolaka.

PT Virtue Dragon Nickel Industry (PT VDNI) di Kabupaten Konawe

PT Virtue Dragon Nickel Industry (PT VDNI) merupakan sala satu perusahaan pemegang izin usaha pertambangan khusus yang telah berinvestasi hingga US Dollar 1,4 miliar atau sekitar Rp19,6 triliun.

Investasinya pada pabrik smelter dengan 15 tungku rotary kiln-electric furnance (RKEF) dengan kapasitas produksi mencapai 600.000-800.000 ton nickel pig iron per tahun dengan kadar nikel 10-12 persen.

Sedangkan PT Obsidian Stainless Steel (PT OSS) perusahaan yang bergerak dalam bidang industri atau pabrik peleburan nikel dan pembuatan baja tahan karat.

Pabrik peleburan nikel PT OSS menggunakan teknologi Reduksi Kiln-Electric Furnace (RK-EF). Selain itu, produk stainless steel atau baja tahan karat dengan teknologi Argon Oxygen Decarburization (AOD).

Kemudian PT Aneka Tambang (Antam) adalah Badan Usaha Milik Negara atau BUMN Holding Industri Pertambangan di Indonesia yang mencakup eksplorasi, penambangan, pengolahan serta pemasaran dari komoditas bijih nikel, feronikel, emas, perak, bauksit, dan batubara.

Khusus segmen operasi nikel PT Antam berada di Sultra yang dikelola oleh Unit Bisnis Pertambangan (UBP) PT Antam yang berada di Kabupaten Kolaka. (Adv)

error: Konten ini tidak dapat dicopy!!