BOMBANAPenanganan stunting akan menjadi salah satu fokus Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Fokus penanganan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang itu dilakukan dengan menekan angka stunting supaya tidak ada kasus baru.

Sedangkan anak-anak yang berisiko stunting dapat dilakukan penanganan dengan cepat dan terarah.

Sejak 2024 silam, Dinas Kesehatan Bombana yang menjadi salah satu leading sektor dalam penanganan stunting telah melakukan intervensi serentak di tiap-tiap kecamatan.

Dengan cara sweeping atau door to door dengan sasaran ibu hamil dan balita guna dilakukan screening.

Bupati Bombana, Burhanuddin menyampaikan penanganan stunting merupakan tanggung jawab penuh pemerintah sebagai bagian dari pelayanan kepada masyarakat.

“Segala apa yang menjadi persoalan masyarakat adalah tanggung jawab pemerintah untuk menyelesaikan,” ujar Burhanuddin beberapa waktu lalu.

Bupati mengingatkan stunting berdampak langsung pada pertumbuhan fisik, kesehatan, hingga daya pikir anak di masa depan.

Baca Juga:  Peternak Sapi Resah Akibat Penambangan Batu Cinnabar Ilegal di Desa Wambaremba Bombana

Oleh karena itu, intervensi harus dilakukan sedini mungkin untuk mencegah dampak berkepanjangan.

“Kita berharap Indonesia di tahun 2045 akan melahirkan generasi emas. Generasi itu adalah anak-anak kita hari ini. Jangan sampai mereka kehilangan masa depan hanya karena kita lalai mengintervensi saat masih dini,” jelasnya.

Dia juga menjelaskan sejak awal menjabat sebagai Penjabat Bupati, dirinya langsung membuat program penanganan stunting, termasuk konsep orang tua asuh dari kalangan aparatur pemerintahan hingga kepala desa.

“Jika ini terus berjalan, saya yakin angka stunting kita akan lebih cepat masuk ke kategori rendah, sesuai target pemerintah pusat,” katanya.

Lebih lanjut, Burhanuddin menekankan penanganan stunting bukan hanya sebatas pemberian makanan tambahan atau gizi. Program ini harus disertai pemantauan intensif, pembinaan, serta intervensi secara menyeluruh.

“Paling penting bukan saja untuk anak-anak, tetapi juga bagi ibu hamil. Karena itu, mindset kita sebagai kepala OPD, camat, dan kepala desa harus berubah. Jadikan ini sebagai bagian dari sedekah dan tanggung jawab moral,” pesannya.

Baca Juga:  Burhanuddin Sindir ASN Bombana yang Hanya Isi Absensi Pagi dan Sore Tanpa Bekerja

Dia mengimbau agar setiap kasus stunting yang ditemukan di desa dilaporkan secara berjenjang.

Sementara itu, Kadis Kesehatan Bombana, Darwin meyakini angka stunting di Bombana di tahun 2025 ini akan mengalami penurunan dengan hadirnya Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Belum lama ini, salah satu anggota DPR RI bersama pihak BGN telah melakukan sosialisasi terkait MBG untuk di Bombana, saya yakin ini sangat berdampak drastis dengan penurunan angka stunting bagi anak sekolah,” ujarnya.

Dia berharap upaya sosialisasi dan eksekusi program tersebut nantinya dapat berjalan dengan baik sehingga semua anak di Bombana khususnya pelajar terpenuhi gizi.

“Langkah-langkah lain pencegahan stunting kami sudah lakukan sejak tahun kemarin, pendataan juga terus dilakukan di setiap Puskesmas melalui Posyandu dan penanganan Ibu hamil,” pungkasnya.

**