KENDARI – Bakal calon Gubernur Sulawesi Tenggara (Sulttra), Hugua mengatakan pemerintah daerah khususnya Gubernur Sultra ke depan harus memfokuskan APBD kepada pengembangan sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata dalam percepatan pertumbuhan ekonomi.

Hugua menilai dalam membangun Sultra ada dua komponen penting, pertama, data atau fakta akademis Sultra, kedua, ide atau fantasi (harapan rakyat) yang harus diterjemahkan oleh pemimpinnya untuk sultra yang lebih baik.

‘Ya, dua komponen tersebut harus menyatu dalam sistem kepemimpinan Sultra ke depan” kata Hugua, Rabu (08/05/2024).

Hugua menyebut berdasarkan fakta/data statistik tahun 2023, Sultra mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,35 persen, melampaui pertumbuhan nasional 5,03 persen.

Selanjutnya, sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sultra dengan 23,02 persen disusul sektor perdagangan 21,7 persen,  pertambangan 21,4 persen dan sektor konstruksi 12,62 persen.

Namun menurut Hugua, inflasi Sultra masih relatif tinggi karena daya beli masyarakat cenderung menurun walaupun belanja rumah tangga masih baik yaitu 46,8 persen. Fakta lain yang cukup berpengaruh pada capaian PDRB Sultra adalah konstraksi sektor  ekspor barang dan jasa sebesar 16,32 persen.

“Hal ini menjadi batu ujian bagi Gubernur Sultra nantinya untuk mempercepat peningkatan pendapatan daerah,” ungkapnya.

Fakta selanjutnya menurut Hugua, posisi geografis dan geopolitik Sultra yang membentang sepanjang Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI 3) sebagai alur pelayaran kapal-kapal international yang secara ekonomis sangat staretegis.

“ALKI 3 berfungsi sebagai jalur penghubung utama antara pusat pertumbuhan ekonomi global di Benua Asia (Cina, Jepang, India dan Korea Selatan) dengan negara-negara yang ada di Lautan Pasifik, benua Australia dan Benua Amerika,” terangnya.

Lebih lanjut, Hugua mengatakan Sultra juga menjadi bandul transportasi dari Kawasan Barat Indonesia ke Kawasan Timur Indonesia melalui Pelabuhan Baubau dan semua kapal harus lewat Selat Wanci-Kamaru untuk selanjutnya berlayar ke kawasan Timur Indonesia lainnya.

“Jadi Sultra itu sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan dunia” tegasnya.

Fakta dan ide tersebut menurut Hugua, adalah mutlak dan harus menjadi pedoman dasar dalam rumusan visi-misi bagi calon pemimpin Sultra ke depan baik gubernur maupun bupati dan wali kota lewat Pilkada serentak nanti.

Hugua menekankan daya beli masyarakat merupakan faktor penting yang mendorong pertumbuhan sektor konsumsi, yang saat ini menyumbang 46 persen dari PDRB Sultra.

“Untuk itu APBD harus diarahkan pada dukungan sektor pertanian, perikanan dan sektor dominan lainnya di atas dan produk atau komoditi tersebut harus berorientasi ekspor sesuai dengan posisi geografis dan geopolitik Sultra,” jelasnya.

Dengan demikian lanjut Hugua, maka jalan penghubung dari desa ke kota dan jalan poros antar kabupaten harus diperbaiki, selanjutnya mengembangkan 2 pelabuhan besar di Sultra, yaitu pelabuhan di Lameruru Konut harus dikembangkan menjadi pelabuhan ekspor-impor untuk melayani kegiatan produk dan komoditas di daratan Sultra dan Pelabuhan Nambo di Lasalimu atau Pasar Wajo untuk melayani Pulau Muna dan Buton. Tentu  jembatan penghubung Pulau Muna-Buton di Baruta Buton Tengah mutlak dibangun guna memantapkan ide tersebut.

“Disamping potensi tersebut, sektor pariwisata adalah sektor yang luar biasa melebihi kedahsyatan Bali, namun potensi ini masih tidur, menurut saya tujuh keajaiban kawasan pariwisata Sultra akan mendongkrak seluruh sektor lainnya,” katanya.

“Jika pembangunan berdasarkan pada fakta dan ide atau fantasi di atas serta sektor pariwisata dapat dilaksanakan dengan baik, maka masyarakat Sultra akan sejahtera dan nama sultra akan terangkat ke pentas dunia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi indonesia dan dunia,” tutupnya.

**