KONAWE – Kasus tabrak lari yang dialami seorang pelajar bernama Juliansyah (17) asal Desa Hongoa, Kecamatan Pondidaha, Kabupaten Konawe yang Sabtu (11/6/2022) berlahan mulai terungkap.

Juliansyah diduga menjadi pembunuhan berencana. Hal ini diakui ibu korban Samriatin (45) saat menceritakan kejanggalan peristiwa naas yang menimpa sang buah hati.

Sebelumnya Juliansyah mengalami tabrak lari oleh orang tak dikenal (OTK). Dimana saat itu korban meninggal seketika di tempat kejadian perkara (TKP).

Peristiwa itu bermula saat korban sedang berjalan kaki di lokasi kejadian tepatnya di Desa Wonua Mandara, Kecamatan Pondidaha, Kabupaten Konawe.

Tiba-tiba muncul kendaraan roda dua dari arah Unaaha menuju Kendari dan langsung menabrak korban yang berada di sisi kiri badan jalan.

Akibatnya, korban terlempar hingga beberapa meter. Dia sempat dibawa di Puskesmas Pondidaha, namun sayang nyawanya tidak dapat diselamatkan hingga akhirnya meninggal dunia.

Menurut Samriatin, sesaat sebelum tabrak lari pada tanggal 11 Juni 2022 sekitar pukul 10.00 WITA. Korban saat itu bersama adiknya Juni mendatangi rekannya inisial D di balai yang terletak di Desa Wonua Mandara, Kecamatan Pondidaha, Konawe.

Pertemuan keduanya karena rekan Juliansyah inisial D mengajaknya untuk berkelahi. Dalam pengakuan Juni, kata ibunya, di dalam balai kurang lebih 10 orang. Ia melihat tapi hanya sebagian saja yang diketahuinya.

“Dia diajak untuk berkelahi oleh D. Saat ajakan perkelahian adiknya melihat ada rekan lainnya IN, AL, ALU, AR, ” jelas Samriatin, Jumat (5/5/2023).

Tetapi dalam perkelahian itu, kemudian dibatalkan karena IN menyuruh Juni untuk pulang ke rumah.

Tak sampai disitu, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak beritahu ke Juni untuk tidak pulang. Kemudian IN menyambangi bapak itu. Tetapi dalam percakapan IN dan seorang bapak itu tidak diketahui oleh sang adik.

“Adiknya tidak tahu apa percakapannya mereka, selanjutnya IN kembali menyuruh pulang Juni dan ia pun akhirnya pulang ke rumah bersama adiknya,” beber ibu korban.

Selanjutnya sekitar pukul 01.00 WITA atau jam 1 malam ibu korban mendapat dapat kabar bahwa anaknya Juliansyah ditabrak lari.

“Saya diberitahu oleh IN rekan Juliansyah. Bahwa ia temukan anakku di tepi jalan karena di tabrak lari lalu membawanya ke Puskesmas,” bebernya.

Samriatin saat itu menerima kematian anaknya. Akan tetapi beberapa hari kemudian ia merasa aneh karena sering didatangi arwah anaknya. Untuk itu dia menduga bahwa anaknya sengaja dibunuh.

“Setiap malam saya dibisik. Anakku bilang ke saya kalau ia dibunuh bukan ditabrak,” tutupnya. **